Mar
03

Kemarin sore rumah saya dipenuhi oleh siswa saya yang ikut les matematika. Seperti biasa, saat les saya memberi mereka beberapa soal untuk dikerjakan. Sambil mengerjakan soal, seorang anak tiba-tiba bertanya kepada saya, “Bu, saya kok penasaran. Sebenarnya cita-cita Ibu dulu mau jadi apa?”

Saya langsung balik bertanya,” Kok pertanyaannya begitu?”

Si anak tersebut langsung senyum-senyum kecil. Melihat tingkahnya saya langsung ingat kejadian di siang harinya. Siang itu saya mendadak ‘galak’ kepada kelas mereka. Pasalnya begini, selama empat hari ini sekolah sedang melaksanakan uji coba UN 2011 yg keempat kalinya khusus bagi siswa kelas dua belas. Namun sekolah tidak meliburkan siswa kelas sepuluh dan sebelas. Sementara ruang kelas banyak digunakan untuk ruang tes.

Sekolah sendiri menerapkan sistem moving class. Sehingga ruangan yang sedang digunakan untuk tes tidak bisa digunakan untuk belajar. Namun ruangan yang tidak digunakan untuk tes tetap bisa digunakan untuk belajar, seperti ruang matematika, ruang ekonomi, ruang sosiologi, ruang geografi, ruang bahasa mandarin, lab kimia, lab fisika, dan satu lagi lab multimedia. Itu pun jika guru yang bersangkutan tidak sedang ditugasi untuk menjadi pengawas. Jika ruangan belajarnya sedang digunakan atau sang guru sedang ditugasi untuk mengawas, jadilah siswa kelas sepuluh dan sebelas tidak belajar seharian.

Nah, siang itu kelas sebelas yang saya ajar punya jadwal belajar matematika di jam ke 5 dan 6. Saya kebagian mengawas di mata pelajaran pertama. Sementara untuk mata pelajaran kedua saya free. Lalu saya pun masuk ke ruang matematika.
Rasa kesal langsung meluap saat saya melihat di kelas hanya ada sekitar sepuluh sampai lima belas orang siswa. Sementara sisanya, entah kemana. Saya langsung mengabsen mereka yang hadir dan meng-alpa-kan (alpa = tidak masuk tanpa keterangan, red) yang tidak hadir. Dan saya tetap memutuskan untuk belajar dengan jumlah siswa yang tak banyak ini.

Hingga hampir berakhirnya jam pelajaran ke-5, beberapa siswa perempuan langsung berbondong-bondong menyerbu kelas. Saya tidak mengizinkan mereka untuk masuk begitu saja. Namun beberapa dari mereka memberikan bermacam-macam alasan mengapa mereka tidak masuk tepat waktu. Karena mereka mengira saya mengawas, karena tidak ada teman yang memberi tahu, karena dari jam pertama mereka tidak belajar sebab ruang kelas mereka digunakan untuk tes sehingga mereka mengira matematika pun tidak belajar, dan berbagai alasan lain yang membuat hati saya hanya bisa berkata ‘sabar…’.

Namun akhirnya saya mengizinkan mereka masuk dengan catatan saya tetap menganggap mereka tidak masuk. Dan salah satu dari mereka yang ‘bandel’ ini adalah seorang siswa yang cukup dekat dengan saya yang baru saja menanyakan cita-cita saya barusan.

Masih sambil senyum-senyum, anak ini berkata,” Bu, kami minta maaf untuk ulah kami siang tadi.”

Saya hanya geleng-geleng. Tapi anak tersebut masih mengulangi lagi pertanyaannya di awal tadi.

“Menurut saya, Ibu nggak cocok lho jadi guru. Makanya saya penasaran, apa iya cita-cita Ibu dulu memang mau jadi guru?”

Saya langsung mengernyitkan dahi, “Lantas kalau tidak cocok jadi guru, menurut kalian ibu cocoknya jadi apa?”

“Jadi dokter lebih cocok,” yang lain menyeletuk.

Kali ini saya langsung terbahak.

“Iya Bu, kenapa ibu tidak jadi dokter saja? Kenapa ibu mau jadi guru?”

Butuh waktu yang panjang untuk memberikan penjelasan tentang jawaban dari pertanyaan mereka. Dan saya terlalu malas untuk membahas itu.

“Kalian sudah pasti punya cita-cita juga kan? Maka dari itu, mulai sekarang kejarlah cita-cita itu dan jangan pernah menyerah untuk meraihnya. Ingat ini, jangan menyerah sedikitpun sebelum kalian meraihnya.”

Hanya itu yang bisa saya katakan.

Mereka masih terus mengerjakan soal-soal, sementara pikiran saya bercabang. Pertanyaan itu seperti peluru yang ditembakkan tepat sasaran. Saya kembali meneliti ruang hati saya mili demi mili.

Tidak, tidak boleh ada sesal sedikitpun di sana. Ini pekerjaan yang mulia, dan saya harus ikhlas untuk sesuatu yang mulia …


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Category: Personal Notes
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
One Response
  1. opepultalse says:

    necesidad de comprobar:)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>