Jan
11

Hari ini tadi adalah hari pertama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar semester genap di SMA tempat saya mengajar. Entah mengapa, mungkin karena telah cukup lama terbius oleh masa-masa liburan yang amat sangat santai saya jadi merasa agak aneh siang tadi.

Sebagai seorang pemula, saya merasa kehidupan saya sebagai seorang guru begitu fluktuatif. Di semester pertama yang baru saja berlalu, dimana saya diserahi jatah mengajar delapan kelas (3 kelas mengajar matematika dan 5 kelas sisanya mengajar TIK) dan juga diserahi tanggung jawab sebagai wali kelas, saya merasa kejutan-kejutan entah besar maupun kecil sepertinya datang bertubi-tubi tanpa henti.

Saya harus membuka buku dari bermacam-macam penerbit hampir setiap hari, mempersiapkan materi di malam hari, mempelajari mata pelajaran yang tidak saya kuasai seperti TIK (sebenarnya yang saya khawatirkan bukanlah materinya, tetapi strategi mengajarnya karena belum tentu sama dengan strategi mengajar matematika), berhubungan dengan wali siswa disebabkan siswa saya yang satu itu sering sekali bolos bahkan enggan lagi meneruskan sekolah, menyusun perangkat pembelajaran (program tahunan, program semester, silabus, RPP, analisis standar kompetensi/kompetensi dasar, dan lain sebagainya), membuat materi ajar berbasis TIK, menyusun soal ulangan harian, menyesuaikannya dengan SKL Ujian Nasional, melakukan remedial, mengoreksi, menghadapi siswa nakal (siswa jurusan ilmu sosial paling terkenal kehiperaktifannya), menyusun soal ulangan semester, menulis rapor yang membuat saya tiga malam berturut-turut tidak tidur (tidur hanya satu atau dua jam saja), tanya sana sini cara mengisi rapor yang benar (walaupun pada akhirnya masih ada juga yang keliru), memberi pengarahan untuk pertama kalinya di depan para wali murid saat pembagian rapor, dan lain sebagainya. Di samping itu, kejutan-kejutan itu juga menyerang sisi psikologis saya. Hingga pada akhirnya saya harus belajar cara meredam amarah, belajar menyikapi orang-orang di sekeliling saya, menyikapi siswa-siswa saya, menyikapi wali siswa, juga belajar tentang loyalitas (terhadap pekerjaan, pimpinan, lingkungan), belajar mengatur waktu, belajar sabar, belajar ikhlas, belajar tawadu’, juga belajar tentang ‘menjadi guru’ itu sendiri.

Dan yang menariknya, semua itu berlangsung secara bersamaan untuk yang pertama kalinya dalam hidup saya. Bahkan yang lebih menarik lagi adalah, saya bukanlah termasuk jenis manusia yang peduli, berkebalikan dengan profesi guru yang mengharuskan seribu persen kepedulian itu mutlak untuk dimiliki. Alhasil, jadilah saya bersusah payah mengumpulkan energi setiap hari untuk menjadi orang yang sangat peduli. Peduli terhadap apa saja walaupun hasilnya kadang-kadang masih memprihatinkan.

Dan tadi saat saya pertama kali menginjakkan kaki ke sekolah, saya seperti mengalami syndrome de javu. Ini mirip sekali rasanya seperti ketika saya pertama kali memasuki sekolah ini dan mengajar untuk pertama kalinya.
Saya kikuk, merasa tak nyaman saat upacara bendera senin pagi berlangsung. Merasa asing melihat tatapan siswa-siswa yang saya ajar di separuh tahun sebelumya. Benar-benar perasaan yang aneh.

Hingga pada puncaknya, tibalah saya memainkan peran saya sebagai aktris di panggung kelas saya sendiri. Hari senin ini saya punya lima jam pelajaran dan mengajar di tiga kelas. Tiga jam untuk pelajaran matematika, dua jam untuk pelajaran TIK. Jam pertama yang saya masuki adalah jam matematika di kelas XI Ilmu Sosial, tepatnya setelah istirahat pertama usai.

Seperti biasa, saya absen siswa-siswa saya satu-persatu, saya tanya bagaimana pendapat mereka tentang nilai mereka di semester ganjil sebelumnya, lalu saja jabarkan materi apa saja yang akan dipelajari di semester genap ini. Dan sungguh, meskipun ini (maksudnya berbicara di depan siswa saya sendiri) telah puluhan kali saya lakukan, saya tetap merasa canggung.

Seseorang dari mereka pun tiba-tiba berseloroh,” Bu, ini kan hari pertama, kita jangan belajar dulu dong, Bu. Kan masih proses adaptasi, Bu,”. Lalu teman-temannya yang lain pun segera mengiyakan. Riuh mengisi kelas.

Saya tertawa dalam hati, mentertawai kenyataan bahwa ternyata siswa SMA sekarang dengan siswa SMA jaman saya dulu tak jauh berbeda. Dan permintaan itu jelas tidak saya penuhi.

Sebagai gantinya, saya bujuk mereka untuk mau belajar dengan iming-iming materi yang akan dipelajari di hari pertama ini adalah materi yang sangat mudah dan mereka pasti dapat menguasainya (ini hanya tipu daya sebenarnya). Dan kegiatan belajar pun dimulai.

Mungkin karena saya masih belum bisa rileks, maka hari ini saya tak punya batasan-batasan dalam mengajar. Berbeda dengan hari-hari biasanya, saya tak punya target seberapa jauh materi yang harus diselesaikan, berapa jumlah soal yang harus terbahas, berapa banyak waktu yang digunakan untuk menyelesaikan satu sub bab materi, saya sama sekali tak punya itu. Hari ini saya yang akan mengikuti mereka. Saya akan ikuti sejauh mana mereka mampu belajar.

And you know what? Suatu keanehan yang baru kembali terjadi. Mereka bersikap tenang di kelas. Tenang, tenang, dan tenang. Tidak ada suara seperti lalat yang mengaung yang kadang-kadang membuat saya naik pitam ketika menjelaskan materi di whiteboard. Saya juga tidak perlu mengeluarkan nada-nada tinggi untuk membuat mereka tenang seperti biasanya. Sebaliknya, yang terdengar hanyalah suara saya yang perlahan-lahan menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang masih dirasakan belum jelas oleh mereka. Ada apa sebenarnya dengan hari ini? Mungkinkah saya telah menemukan satu lagi strategi belajar yang efektif? Atau apakah ini hanya karena efek syndrome hari pertama saja? Entahlah.

Dan ya, tibalah pada saatnya dimana saya merasa ini sungguh aneh, dan saya tibalah saya pada situasi dimana saya merasa tidah betah. Saya tidak betah berada di dalam ruangan kelas yang rasanya sepi seperti kuburan persis seperti suasana kelas siang tadi. Lalu saya berjalan mengitari kelas, memeriksa pekerjaan mereka yang faktanya memang lebih lama selesainya dibandingkan waktu yang biasa saya berikan untuk mengerjakan soal-soal latihan.

Merasa perlu sedikit sesuatu untuk mencairkan suasana, saya mulai ajak mereka bercanda. Seorang siswa yang buku catatannya tampak kucel dan sedari awal pelajaran tampak mencuri-curi waktu untuk memberi kode dengan teman di sampingnya menjadi korban gurauan saya yang pada akhirnya menjadi korban gurauan teman-teman sekelasnya. Kelas kembali hidup. Dan kelihatannya saya lebih menyukai yang seperti ini. Waktu terus bergulir, saya merasa saya mulai bisa pegang kendali, meskipun sebenarnya rasa aneh itu masih belum benar-benar pergi tepat hingga jam pelajaran usai.

Entah apa yang saya alami hari ini, namun sepertinya saya butuh waktu khusus untuk menelaah kejadian demi kejadian hari ini dalam waktu tersendiri. Siapa tahu ada sesuatu yang saya lewatkan dan ternyata itu berharga. But di luar itu, ada satu hal yang yang sejak dulu membuat saya sadar bahwa saya akan terus berusaha berada dalam jalur profesi ini (selama tidak ada halangan ‘berarti’ yang mampu mengubah saya dari niat ini). Yaitu ketika saya melihat wajah-wajah polos mereka, senyum tulus mereka, gurauan mereka, teguran selamat pagi mereka, pertanyaan-pertanyaan konyol mereka, keluhan-keluhan mereka, dan ucapan terima kasih dari mereka. Ya, saya seperti terjebak oleh tingkah mereka yang kadang begitu manis di satu sisi namun kadang begitu menjengkelkan di sisi lain.

Oh God, I need some help! U know i’m trapped, really really trapped! ;)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Category: Teaching Stories  Tags:
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
2 Responses
  1. Yudhi says:

    Postingannya bagus kisahnya juga ok, bisa jadi motivasi buat saya, sama bu posisi saya skrg jd guru & wali kelas, sprti yg ditulis dalam postingan ibu diatas, semangat terus Bu Guru..!!

  2. Dewi Kartika says:

    terima kasih.. sama-sama pak guru, semangat juga untuk anda.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>