Peraturan Baru di Malam Jumat: Yang Coba-Coba Jahil, Akan Dijahili

2 Apr 2010

Kejadian ini terjadinya sudah lama sekali, namun masih terekam jelas dalam ingatan saya dan masih tak henti-hentinya membuat saya bertanya-tanya. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP. Saya mempunyai seorang adik perempuan yang saat itu masih SD. Biasanya, ketika azan maghrib berkumandang, seluruh penghuni rumah yang terdiri dari ayah, ibu, saya, dan adik saya yang masih kecil bergegas untuk shalat magrib berjamaah di masjid karena kebetulan masjidnya tak terlalu jauh dari rumah kami.

Tapi magrib itu saya sedang kerasukan lusinan setan malas, hingga akhirnya alasan untuk tidak ikut ke masjid pun terbayang sudah. Mulas. Itu dia kata yang terlontar ketika lafaz Allahu Akbar berkumandang. Ibu saya terheran-heran mendengar saya yang tiba-tiba berujar demikian. Tapi begitu beliau melihat wajah meringis saya ditambah lagi dengan tangan saya yang (pura-pura) mendekapi perut, akhirnya beliau pun pasrah.

Ya sudah, kamu shalat di rumah saja.

YEY! Saya melonjak girang dalam hati.

Pintu pun ditutup. Mereka bertiga berangkat. Saya shalat magrib di rumah cepat-cepat. Sekejap setelah itu, tanpa ba-bi-bu lagi saya langsung menyambar komik seru favorit saya yang sangat ingin segera saya tamatkan, hehehe.

Saya bawa komik itu ke ruang tamu untuk membacanya dengan santai di sana. Sebenarnya saya ingin membacanya di teras, namun berhubung suasana di luar sudah remang-remang, ditambah lagi tak ada satu manusia pun yang lewat, dan ditambah lagi suasanya yang agak sedikit meresahkan (maklum, konon katanya pamali kalau duduk-duduk di luar rumah saat magrib dan itu membuat hati saya sedikit resah), maka saya memilih membaca di ruang tamu. Tak lama kemudian, baru selesai membaca beberapa halaman, saya mendengar suara srag-sreg dari luar.

Saya mengintip melalui jendela. Oh, rupanya adik kecil saya sedang berjalan sendirian hendak memasuki pekarangan rumah. Memang dari dalam tak kelihatan jelas, tapi saya yakin kalau itu adik saya. Ia mengenakan celana ungu dan kaus berkerah dengan warna senada yang lebih muda. Kedua tangannya mendekapkan mukenah di dadanya. Beberapa saat lagi ia akan tiba di rumah. Dan saya berniat mengerjainnya kali ini. Dengan buru-buru saya merapat ke samping pintu, menanti detik-detik kedatangannya dan bermaksud membuatnya kaget bukan kepalang, hihihi.

Lima Detik.

Sepuluh detik.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Lima menit.

SEPULUH MENIT!

Sudah sepuluh menit saya sabar menanti. Tapi yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Bosan, saya pun mengintip lagi dari jendela.

Dan Voila! Langit telah berubah menjadi gelap gulita, tak lagi remang-remang, tanpa bintang, tanpa sinar bulan. Dan parahnya, saya tak melihat siapa-siapa di luar sana!

Duh, kemana perginya dia? Saya kecewa bercampur gelisah. Jangan-jangan adik saya malah mampir ke rumah tetangga. Tapi apa iya? Sebenarnya saya tak yakin ia kemana-mana saat magrib-magrib begini. Atau mungkinkah saya yang salah lihat? Hm, sepertinya tidak mungkin. Saya pun duduk kembali. Dalam hati saya menggerutu karena tidak berhasil menjahilinya. Ingin melihat-lihat keluar tapi saya tak bernyali. Di luar sunyi, sepi.

Tak lama kemudian, terdengarlah bunyi salam. Saya jawab salam itu dan bergegas membuka pintu. Ayah, ibu, dan adik saya sudah pulang. Ibu tiba di rumah dengan masih mengenakan mukenahnya, begitu pula dengan adik saya yang begitu masuk langsung mencopotnya. Tangannya sibuk mengibas-ngibaskan kerah baju ungu mudanya.

Panas! ujarnya setengah berteriak.

Saya bingung. Mengapa ia bisa pulang berbarengan dengan ayah dan ibu? Apa tadi ia kembali lagi ke masjid?

Kamu tadi kemana dulu, heh? Saya mencoba menyelidiki.

Kemana apanya? Ini baru pulang, lihat sendiri kan?

Saya tertegun sesaat, setengah tak percaya dengan yang ia ucapkan.

Lho, bukannya kamu sudah pulang dari tadi? Barusan kakak lihat kamu lewat jalan itu, sanggahku sambil menunjuk ke luar.

Ah, kakak ngaco nih. Aku kan perginya sama ibu, jadi pulangnya juga sama ibu. Lagian kami tadi nggak lewat situ, kami lewat jalan pintas… tass… ujarnya lagi.

Kening saya mengernyit. Jalan pintas? Otak saya pun langsung terjungkir tujuh puluh derajat begitu menyadari sesuatu. Jalan pintas yang ia maksud adalah jalan lain yang lebih dekat dan arahnya berlawanan dengan jalan yang biasa dilalui. Artinya, (jika ia berkata benar) ia tak mungkin melewati jalan dimana ia sempat kulihat tadi! Jika iya, jadi yang tadi itu siapa?

Masa sih? Kamu jangan bohong ya? Saya mengangkat telunjuk ke arahnya.

Rizki benar, kami tadi memang pulangnya sama-sama kok, nggak lewat jalan biasanya. Memangnya kenapa, Kak? potong ibu.

Mm, tidak apa-apa, jawab saya gusar.

Saya terdiam. Yang tadi saya lihat itu Ah, saya yakin saya tak salah lihat. Tapi bagaimana bisa begini?

Bu, nanti malam sahur ya? suara adik saya terdengar lagi dari ruang tengah. Ibu dan ayah juga sedang berada di sana.

Wah, anak ibu mau puasa sunah ya? Tapi seharusnya puasa sunahnya hari ini, Sayang. Ini kan hari Kamis, jawab ibu lembut.

Adik saya mengoceh lagi. Tapi saya tak memperdulikan ocehannya. Ya, benar. Saya baru ingat ini hari kamis. Artinya besok hari jumat. Dan artinya lagi malam ini adalah malam jumat. Pantas saja. Olala bulu kuduk saya langsung berdiri mengetahui keganjilan ini. Duh, saya malah merasa saya yang dikerjai. (Sampai sekarang saya masih suka mikir, andai saja rencana jahil itu berhasil, siapa yang akan terkejut ya? Saya, atau dia?)

Note: best regard for jelita for their fun contest :D


TAGS cerita lucu fun fun story


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post