Raf
April 11th, 2013
When you said that the distance and precence brings no effect to us, i can take a conclusion that you aren’t the one who belong with me then.


When you said that the distance and precence brings no effect to us, i can take a conclusion that you aren’t the one who belong with me then.

Mungkin selama ini aku yang tidak memahami bagaimana caramu menyayangi
Mungkin selama ini aku yang salah mengartikan segala hal yang telah engkau lakukan
Engkau tak peduli bagaimana sikapku terhadapmu, bahkan ketika aku tak memberikan apapun sebagai ganti kebaikan-kebaikanmu padaku
Segalanya aku dapatkan darimu; cinta, kasih sayang, dan ketulusan hati
Sekalipun engkau tidak pernah pergi, tidak pernah meninggalkan
Kini ku tahu, hanya aku dan aku saja yang ada di hatimu
Ibu, aku sayang padamu

Sehat itu mahal. Saya baru percaya dan membuktikan sendiri bahwa pernyataan ini benar. Ketika sakit, Anda dapat berniat menukar apapun yang Anda miliki untuk dapat kembali sehat. Enam bulan yang lalu, tepatnya di bulan November 2012, saya menjalani operasi. Sebelumnya tentu tak ada yang mengira. Namun dokter menyarankan demikian.
Beberapa minggu menjelang operasi, saya sempat kehilangan bobot secara drastis. Di tambah puasa selama bulan Ramadhan, kala itu berat badan saya sampai menyentuh angka 39 kg. Padahal beberapa bulan sebelumnya berat ideal saya sekita 45 kg. Bahkan sewaktu kuliah pun bobot saya pernah di atas 50 kg. Entah karena stres, atau memang karena tubuh saya sedang sakit, berat badan saya kian menyusut.
Percayalah bahwa mengobati itu berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada mencegah. Menghabiskan biaya, tenaga, dan waktu untuk dapat kembali pulih sudah menjadi konsekuensi wajib.
Salah satu penyebab utama tubuh terserang penyakit adalah pola hidup yang tidak sehat. Seingat saya, saya tidak pernah menelan sayuran hijau sejak saya masih di bangku sekolah. Karena saya tak suka obat, saya pun jarang mengkonsumsi vitamin dan suplemen. Saya juga lebih banyak duduk di depan komputer ketimbang gerak. Ditambah lagi dengan makanan yang biasa saya makan yang belum tentu memenuhi apa yang tubuh saya butuhkan.
Perlahan, kini saya mulai mengatur pola makan dan pola hidup saya sendiri. Saya mulai membiasakan diri untuk mengkonsumsi sayuran yang dimasak oleh ibu di rumah. Saya juga mengurangi jajan sembarangan dan tidur larut malam. Untuk semua ini, tentu ibu sangat gembira, hehehe. Setelah tahu betapa sakit itu tidak menyenangkan, saya mulai berpikir mengapa saya tidak melakukannya dari dulu saja, Well, nasi sudah menjadi bubur. Yang penting, mulai hari ini rajin-rajin deh makan sayur


Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup. Mungkin memang demikian gambaran perjalanan hidup setiap manusia. Pada akhirnya tiap-tiap diri akan tumbuh laksana pohon. Semakin lama semakin menjulang. Dan beriring dengan itu, ujian pun semakin berat.

Hari ini, karena saya punya waktu empat jam tidak mengajar, saya menyempatkan diri ke mushola sekolah. Awalnya mushola masih kosong, saya adalah yang pertama membuka gerbangnya. Setelah mengambil air wudhu, saya pun bersiap-siap dhuha.
Bersamaan dengan saya yang akan memulai dhuha, bel istirahat berbunyi. Suara anak-anak yang riuh mulai terdengar. Sembari shalat saya mendapati seorang anak meletakkan mukenahnya di samping saya, lalu keluar untuk wudhu.
Dua rakaat telah saya selesaikan. Si anak perempuan yang berjilbab ini memulai shalat dhuhanya. Tak lama kemudian seorang anak laki-laki juga memasuki mushola. Saya kembali melanjutkan shalat. Setelah saya selesai, seorang anak perempuan kembali menyusul. Ketiga anak ini masih shalat. Sementara saya masih sibuk memperbaiki kerudung dan melipat mukenah.
Bel masuk berbunyi beberapa menit kemudian. Dua diantara mereka telah selesai. Salah seorang anak perempuan yang telah selesai shalat menghampiri saya untuk menyalami saya.
Sejujurnya pemandangan ini membuat saya kembali menyusuri waktu. Saya punya waktu empat jam pelajaran (@ 45 menit) atau sekitar tiga jam dan baru dapat menyempatkan diri untuk dhuha. Sementara ketiga anak ini, mereka hanya punya waktu istirahat lima belas menit. Alih-alih ke kantin atau bersenda gurau bersama teman-temannya, mereka lebih memilih menyisihkan waktu untuk menghadap Tuhan Yang Maha Pemurah. Subhanallah. Semoga keberkahan senantiasa meliputi setiap langkah kecil mereka.
